ABAINYA NEGARA TERHADAP PEMENUHAN HAK-HAK EKOSOB PEREMPUAN

  • 20 April 2015
  • Oleh: lbhbali
  • Dibaca: 1629 Pengunjung

Permaslahan perempuan selalu menjadi permasalahan yang tidak pernah berujung. Perempuan seringkali menjadi objek dalam setiap kejahatan dan diskriminasi. Walaupun telah mendapat perhatian serius dari organisasi dan penggiat gerakan perempuan serta juga perhatian dari pihak Pemerintah, masih saja pelanggaran pelanggaran terhadap perempuan marak terjadi. Di Bali, berdasarkan data pada Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2013 mengenai perempuan yang mengenyam pendidikan umur 7-18 tahun, umur 7-12 perempuan yang mengenyam pendidikan adalah 98,56%, umur13-15 tahun perempuan yang mengenyam pendidikan sebesar 91,67%, dan umur 16-18 tahun perempuan yang mengenyam pendidikan sebesar 63,98%. Terlihat terjadinya penurunan jumlah yang begitu signifikan untuk perempuan menikmati pendidikan formal ditingkat dasar dan menengah, hal ini tentu sangat memprihatinkan. Ditengah usaha pemerintah dalam memberikan pendidikan terhadap warga negaranya ternyata masih terbatas jika dikaitkan dengan isu gender. Perempuan masih belum mendapat akses untuk mengenyam pendidikan dalam masyarakat. Stigma perempuan dimasyarakat yang selama ini diidentikkan dengan kegiatan domestic rumah tangga selalu menjadi latar belakang utama masyarakat untuk tidak menyekolahkan anak perempuan mereka. Dalam bidang kesehatan, seharusnya perempuan mendapat kekhususan termasuk dalam perlindungan proses persalinan serta kesehatan reproduksi. Selain pemberian penyuluhan terhadap perempuan juga diharapkan diimbangi dengan pengadaan infrastrukstur yang memadai di bidang kesehatan yang berkaitan dengan perempuan khususnya.

Dunia kerja juga belum menjadi tempat yang ramah bagi kaum perempuan. Banyak perusahaan masih mengabaikan hak-hak perempuan. Selain cuti melahirkan yang menjadi hak prinsip bagi kaum perempuan, cuti haid, jam istirahat menyusui, jam kerja, upah yang lebih kecil dari kaum pria,dll masih banyak ditemukan. Perempuan seolah olah hanya dijadikan sapi perahan, bekerja keras dengan dedikasi kepada perusahaan tidak dibayar dengan perlindungan terhadap hak dasar mereka oleh perusahaan. Data yang diperoleh dari Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Bali menurut jam kerja perempuan dari tahun 2011 – 2014, rata –rata pekerja perempuan diBali yang kerja dari 1 – 9 jam mencapai 24.088 tenaga kerja selebihnya tenaga kerja perempuan bisa bekerja mencapai lebih dari 12 jam setiap hari. Jika dilihat dari kondasi tenaga kerja perempuan yang ada saat ini masih sangat tidak berpihak kepada perempuan yang dimana banyak tenaga kerja perempuan yang mendapat upah kecil dibanding laki – laki sementara jam kerja mereka yang lakukan sama dengan jam kerja kaum laki.

Masih terlihat jelas diskriminasi yang dialami perempuan disegala bidang baik di bidang kesehatan,pendidikan dan ketenaga kerjaan. Dimana persamaan gender yang selama ini diperjuangkan kaum perempuan masih sangat jauh dari harapan. Bertepastan dengan Peringatan Hari Kartini tanggal 21 april 2015 ini seharusnya memberikan semangat baru bagi kaum perempuaan untuk dapat memperjuangkan hak-hak perempuan serta memperjuangkan kaum perempuan untuk dapat keluar dari diskriminasi gender yang selama ini masih selalu mengiringi. Dengan itu dalam mempereingati hari kartini yang jatuh pada tanggal 21 April kaum perempuan yang dipelopori oleh LBH Bali mengadakan diskusi dengan organisasi - organisasi perempuan yaitu Seruni, PSW Unud, WHDI Kota Denpasar, P2TP2A Prov. Bali, Kisara PKBI Bali, P2TP2A Denpasar, BP3A Bali, IPPI, LBH Apik, FMN, Dinas Pendidikan Bali, LBH Ramah Keluarga dengan mengusung tema diskusi tentang “Abainya Negara Terhadap Pemenuhan Hak – Hak Ekosob Perempuan” dimana harapan dari organisasi – organisasi perempuan agar ada persamaan hak dengan kaum laki – laki tanpa adanya kriminalisasi dari setiap hak perempuan. Selain penghapusan diskriminasi, kejahatan terhadap perempuan juga harus dihentikan, sehingga harapan agar perempuan Indonesia dapat menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan negeri ini dapat terwujud. Karena dari rahim perempuan lah lahir generasi penerus negeri ini, karena baik buruknya negeri ini tidak terlepas dari bagaimana bangsa ini menghargai dan menghormati Ibunya. Selamat Hari Kartini, Perjuangan Perempuan Menembus Batas.

Berdasarkan permasalahan diatas kami menuntut agar Negara :

1.      Segera mewujudkan keadilan bagi perempuan

2.       Stop diskiminasi terhadap perempuan

3.      Akhiri kekerasan terhadap perempuan dan human trackfiking

4.      Menjamin terpenuhinya hak – hak dibidang pendidikan, kesehatan dan ketenagakerjaan

5.      Hentikan kriminalisasi terhadap perempuan

 

Denpasar , 21 April 2015      

                ttd                   

Divisi Perempuan dan Anak

YLBHI-LBH BALI                   


  • 20 April 2015
  • Oleh: lbhbali
  • Dibaca: 1629 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya