Hapus dan Tolak Hukuman Mati, #SaveMaryJaneVeloso

  • 27 April 2015
  • Oleh: lbhbali
  • Dibaca: 1596 Pengunjung

Buruh Migran Mary Jane Veloso (30) buruh migran Filipina korban perdagangan manusia yang dijebak sindikat narkoba untuk membawa heroin 2.6 kg ke Yogyakarta dan akan dihukum mati di Indonesia. Mary Jane Fiesta Veloso yang menjadi korban KDRT dan terhimpit kemiskinan dengan menanggung kehidupan 2 anaknya menjadi Korban Perekrutan Ilegal, Perdagangan Orang, dan Penipuan menjadi Kurir Narkoba. Mary Jane Fiesta Veloso April 2010 MARY JANE FIESTA VELOSO  Veloso direkrut  oleh teman mantan suaminya bernama Maria Kristina P. Sergio untuk bekerja ke Malaysia sebagai pekerja rumah tangga. MARY JANE FIESTA VELOSO  menyerahkan motor dan telepon genggam kepada Kristina sebagai biaya keberangkatan. Motor dan HP bernilai 7000 Peso. Uang tersebut  belum cukup untuk membeli tiket. Kristina dan Mary Jane Fiesta Veloso membuat perjanjian lisan bahwa kekurangan biaya keberangkatan akan dibayar dengan memotong 3 bulan gaji MARY JANE FIESTA VELOSO  saat bekerja nanti. Pada 22 April 2010, Mary Jane Fiesta Veloso terbang menuju Malaysia dan masuk negara tersebut dengan Visa turis. Kristina dan Mary Jane Fiesta Veloso menginap di hotel. MARY JANE FIESTA VELOSO  tidak langsung bekerja alasannya karena calon majikan sedang berada di luar negeri. MARY JANE FIESTA VELOSO  menginap selama di hotel selama 3 hari. Kristina membelikan beberapa potong pakaian karena MARY JANE FIESTA VELOSO  dilarang membawa pakaian ganti saat berangkat. Pakaian yang dibelikan Kristina bukan pakaian baru tapi bekas. 24 April 2010, MARY JANE FIESTA VELOSO  diajak Kristina menemui temannya yang membelikan tas di sebuah tempat parkir. Saat tas diberikan, Kristin yang membawa tas tersebut dari tempat parkir ke hotel. MARY JANE FIESTA VELOSO  sempat bertanya mengapa tas berat?  Kristin mengatakan tas koper yang baru memang berat. MARY JANE FIESTA VELOSO  langsung percaya karena baru kali ini dia memiliki tas koper yang beroda. MARY JANE FIESTA VELOSO  menyusun pakaian yang dia punya ke dalam tas tersebut tanpa curiga sedikit pun. Kristina meminta MARY JANE FIESTA VELOSO  untuk ke Indonesia menemui temannya. Kristina menjanjikan setelah seminggu di Indonesia MARY JANE FIESTA VELOSO  kembali ke Malaysia dapat  langsung mulai bekerja di tempat majikan baru. Mary Jane Fiesta Veloso akhirnya pergi ke Indonesia. Kristina berpesan setiba di Bandara langsung mencari sim card telpon dan hotel terdekat. Sesampai di hotel langsung menghubungi teman Kristina. Tidak ada pesan terkait tas sama sekali. Kristin memberikan uang 500 USD kepada Mary Jane Fiesta Veloso untuk biaya hotel dan perjalanan selama 1 minggu di Indonesia. 25 April 2010, Mary Jane Fiesta Veloso tertangkap tangan di Bandara Internasional Adi Sucipto Yogyakarta, di dalam tasnya ditemukan heroin seberat 2,6 kg.

Bahwa system Hukum Indonesia belum bisa memberikan kepastian hukum, keadilan dan kemanfaatan dimana kurir narkotika Mary Jane Fiesta Veloso (warga negara Filipina) tidak mendapat hak-haknya sebagai Terdakwa. Mary Jane Fiesta Veloso yang ancaman hukuman pidananya 5 tahun atau lebih yang tidak mempunyai penasihat hukum sendiri maka pejabat yang bersangkutan pada semua tingkatan pemeriksaan dalam proses peradilan wajib menunjuk penasehat hukum bagi mereka sedangkan Mary Jane Fiesta Veloso hanya didampingi penasihat hukum di muka persidangan. Mary Jane Fiesta Veloso hanya memahami bahasa Tagalog tetapi pada persidangan penterjemah bukan merupakan penterjemah bersertifikat dan hanya dapat menerjemahkan ke bahasa Inggris sedangkan Mary Jane Fiesta Veloso tidak mengerti Bahasa Inggris sehingga juru bahasa tidak  dapat menterjemahkan dengan benar semua yang harus diterjemahkan. Sehingga Mary Jane Fiesta Veloso mengalami kesulitan dalam menerjemahkan pertanyaan yang dilontarkan hakim yang memeriksa dan mengadili perkara a quo sehingga terjadi perbedaan persepsi.

Pengiriman Buruh Migran Keluar negeri merupakan lepas tangan pemerintah dalam memberikan tanggung jawabnya dalam memberikan kesejahteraan bagi rakyatnyanya, padahal di Indonesia Buruh Migran Merupakan penyumbang devisa terbesar. Dengan adanya penjatuhan hukuman mati di Indonesia, maka Indonesia secara de facto mengakui adanya Hukuman Mati padahal Banyak Buruh Migran Indonesia yang terancam eksekusi mati di luar negeri. Hal ini tentunya mengancam Buruh Migan Indonesia dan Indonesia akan lepas tangan dalam memberikan perlindungan terhadap mereka. Bab III bagian kesatu UU HAM  pasal 9 (1) nya tersirat “ setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya”. Hal itu merupakan suatu bentuk nyata bahwa Negara Indonesia secara de jure mengakui eksistensi hak asasi manusia. Sebagai bentuk konsistensi kebijakan, sebetulnya Negara Indonesia  harus melindungi setiap HAM masyarakatnya termasuk perlindungan terhadap hak hidup seseorang dari penerapan  pidana mati, terlepas jenis tindak pidana yang dilakukannya. Alasan yang melandaskan penerapan pidana mati harus di hapuskan, yaitu diantaranya pertama, pidana mati bertentangan dengan Pancasila, kedua, hukuman mati membatasi hak atas  hidup, adanya kemungkinan eksekusi terhadap orang yang tidak bersalah (the  possibility of the execution of an innocent person), ketiga,hukuman mati  kurang memberikan efek jera terhadap  kejahatan kekerasan (the lack of deterrence of violent crime). Berdasarkan teori kriminologi, dinyatakan bahwa beratnya hukuman tidak menjamin tidak dilakukannya suatu kejahatan. Disamping itu tidak adanya bukti yang membenarkan bahwa hukuman mati dapat menimbulkan efek Jera bagi pelaku.

LBH Bali dengan tegas menyatakan sikap dan menuntut :

1.      Menghapus Hukuman Mati dari Sistem Hukum Indonesia

2.      Menolak Eksekusi Hukuman mati Mary Jane Veloso

3.      Menuntut Pemerintah untuk Melindungi Buruh Migran Indonesia yang terancam Pidana Mati

Denpasar, 28 April 2015

LBH Bali


  • 27 April 2015
  • Oleh: lbhbali
  • Dibaca: 1596 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya