Kaum Tani Harus Mendapat Perlindungan dari Negara

  • 21 September 2015
  • Oleh: lbhbali
  • Dibaca: 960 Pengunjung

Selamat Hari Tani Nasional (HTN) Lawan Perampasan dan Monopoli Tanah Hari tani nasional (HTN) yang selama ini diperingati setiap tahun oleh seluruh Rakyat Indonesia khususnya oleh kaum tani, sejatinya adalah salah satu momentum bersejarah bagi seluruh rakyat Indonesia. Momentum tersebut, sejalan dengan lahirnya undang-undang pokok agraria (UU PA) No. 5, tanggal 24 September Tahun 1960, sebagai salah satu capaian politik kaum tani dan seluruh Rakyat Indonesia dalam perjuangannya mewujudkan tatanan masyarakat yang adil, sejahtera dan berdaulat. Hingga saat ini tanah yang ada di negeri ini dimonopoli oleh beberapa perusahaan-perusahaan besar, termasuk juga Perhutani yang memonopoli hutan-hutan dan terus meminggirkan serta merampas tanah rakyat. Menurut TuK Indonesia salah satu lembaga riset disektor perkebunan sawit dalam peluncuran risetnya, Perkebunan sawit meningkat sekitar 35% dari 7,4 juta hektare pada 2008 menjadi sekitar 10 juta hektar pada 2013 atau rata-rata setiap tahun mengalami perluasan setara dengan luas pulau Bali. Sebanyak 25 grup bisnis milik taipan (tuan tanah besar) itu memiliki kendali atas 5,1 juta ha kebun sawit dengan 3,1 juta hektar telah ditanami berdasarkan laporan tahunan perusahaan. Perusahaan itu sebagian besar tercatat di Bursa Efek, baik di Jakarta, Kuala Lumpur, London maupun Singapura. Disisi lain kekerasan terhadap petani terus saja terjadi. Di tahun 2014 telah terjadi 472 konflik agraria dengan luas wilayah mencapai 2.860.977,07 Ha yang melibatkan 105.887 KK. Jumlah warga yang ditahan 256 orang, dianiaya 110 orang, tertembak 17 orang, dan tewas 19 orang ( sumber : KPA). Dengan adanya monopoli dan perampasan tanah yang terjadi beberapa tahun terahir telah melahirkan kehidupan rakyat semakin sengsara dan miskin. Populasi rakyat Indonesia yang berjumlah sekita 238 juta , hampir 65% bekerja sebagai petani. Artinya secara mayoritas penduduk Indonesia mengalami kehidupan yang melarat. 50% kaum tani Indonesia hidup dengan mengelola tanah 0,5 hektar sisanya adalah buruh tani (sumber ; AGRA). Disamping itu, jika monopoli tanah terus terjadi, maka hal ini akan mengakibatkan banyaknya pengangguran di pedesaan, dan ini akan berdampak terhadap banyaknya perpindahan penduduk (urbanisasi) dari desa ke kota-kota besar untuk mencari pekerjaan. Sementara di perkotaan kaum buruh masih saja dihantui dengan upah murah dan yang baru-baru ini adalah PHK besar-besaran dan ini pasti akan berdampak terhadap meningkatnya angka kemiskinan yang sistemik bagi rakyat Indonesia, sehingga masyarakat akan berbondong-bondong keluar negeri untuk mencari pekerjaan menjadi Buruh Migran (BMI/TKI) yang mana hingga saat ini negara belum mampu memberikan perlindungan terhadap warga negaranya. Atas dasar itulah dan dalam momentum Hari Tani Nasional (HTN) yang ke 55, maka LBH Bali mendesak kepada Rezim Jokow-JK : 1. Laksanakan Reforma Agraria Sejati 2. Stop Monopoli dan Perampasan Tanah 3. Segera Menyelesaikan Seluruh Konflik Agraria 4. Hentikan Kekerasan Terhadap Petani 23 September 2015 Ttd LBH-Bali


  • 21 September 2015
  • Oleh: lbhbali
  • Dibaca: 960 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya